Beberapa minggu setelah menikah, aku sempatkan diriku untuk membaca postingan terbaru dari blog Ami. Ternyata sehari setelah hari pernikahanku, dia menulisn sesuatu tentangku. Karena pada saat membacanya aku dalam kondisi PMS, jadilah airmata gak berhenti mengucur. Beberapa teman yang kusuruh membacanyapun juga terharu dengan tulisaan Ami.
Ini tulisannya :
Ketika Sahabat Saya Menikah
“Kamu ngerasain apa Mi, pas liat sahabat kamu nikah?”..Pertanyaan yang sama sekali nggak terduga keluar dari mulut ayah saya sehabis saya datang dari menghadiri akad nikah sahabat saya. Hmmm saya jadi bertanya-tanya sendiri, saya ngerasain apa yah…
Sahabat saya ini, adalah satu dari orang-orang terbaik yang saya temui dalam hidup. Saya kenal dia dari jaman SMA, jadi kira-kira sudah 10 tahunan kami berteman, praktis udah ribuan hari saya lewatin bareng dia…dari mulai melakukan hal-hal konyol kayak jalan kaki sepanjang pasar burung barito (padahal harusnya kami les), pergi ke club dan cuma minum jus jeruk (soalnya di jaman itu kami nggak pernah minum alkohol sama skali), melampiaskan hobi kami pada makanan, sampai melakukan hal-hal yang ga masuk di akal orang banyak sudah pernah kami lakukan. Saat putus cinta, berantem dengan orangtua, naksir idola di kampus, sampai ke sidang skripsi, dia juga selalu ada buat saya. Intinya, dia selalu ada di hari-hari penting dan nggak penting dalam hidup saya hehehe..
Sewaktu dia berkata dia akan menikah, sejujurnya hati saya sempat mencelos juga. Saya baru menyadari betapa dekat dan tergantungnya saya dengan dia. Kemana-mana hampir selalu berdua. Orangtua saya sampai heran kalo melihat saya barusan pulang dengan dia dan 10 menit kemudian sudah asik ngobrol lagi ditelpon, time was never enough to talk with her!
Kemudian saya jadi wondering, dengan siapa saya harus melakukan itu semua kalau tidak bersama dia…
Semua kekhawatiran dan rasa takut kehilangan bercampur aduk dalam hati saya sampai tiba hari ini, hari dimana dia melangsungkan pernikahan. Saya melihat dia begitu manglingi kalau kata orang jawa, begitu tenang dan tidak ada beban. Lalu tiba-tiba saya merasa jadi orang paling egois di dunia. Kalau dia yang akan menjalani fase baru dalam hidupnya saja begitu tenang dan ikhlas, kenapa saya sebagai orang terdekatnya nggak bisa ikhas dan legowo juga? Kenapa saya tidak mau membagi dia dengan orang yang saya tahu, menyayanginya lebih dari apapun…
Jadi, ketika sahabat saya mantap untuk memasuki gerbang hidup baru dengan pria pilihannya, saya juga mantap untuk mengantarnya mengarungi kehidupan penuh lika-liku selanjutnya, mantap untuk tetap ada disampingnya sesusah dan sesenang apapun ia nantinya, seperti ia selalu menemani saya di hari-hari terbaik dan terburuk saya..
Have a great moment De, if there’s anything in this world is thicker than blood, our friendship must one of it…
tuh kaan saat membaca ulang tulisan ini pun aku tetep nggak bisa nahan jatuhnya airmata..hiks…thanks mi for being such a good friend for me. I know our friendship is thicker than blood.